‘ Karier Juga Butuh Sandiwara, Teman ! ‘


‘ Karier Juga Butuh Sandiwara, Teman ! ‘

By : Alex Emdi

Keterbukaan memang penting .Namun, bukan berarti Anda bebas utnuk pamer ekspressi secara jujur di kantor .Salah-salah , profesionalisme Anda akan dipertanyakan oleh atasan. Karenanya kuasai seni berkelit ini.

Apa yang terjadi jika suatu hari Anda dapat masalah di kantor ? Jika masalah itu berkaiatan denga hal-hal teknis , seperti pendelegasian tugas , Anda tidak begitu kesulitan . Ada banyak sumber yamng bisa jadi referensi untuk mencari solusi. Mulai dari konsultasi dengan atasan, bertanya pada rekan, membaca artikel-artikel karier di majalah atau internet. Singkat kata : gampang..! Namun , bagaimana jika yang Anda hadapi problem-problem remeh tapi pelik ? Misalnya , Bos memergoki Anda terlambat . Apa yang akan Anda perbuat ? Berkata “ Maaf, Pak saya terlambat.” Jelas tak bermanfaat. Anda jelas-jelas sudah terlambat. Berujar “ Maaf, jalan macet.” Juga tak ada gunanya . Apalagi jujur mengaku kalau terlambat bangun karena begadang tadi malam. No-n0-no ..! Kejujuran macam ini bisa jadi boomerang bagi karier Anda.

Lantas bagaimana bersikap di tempat kerja ? Bukankah keterbukaan adalah bagian adalah bagian dari profesionalisme kerja ? Tapi akan professional lagi jika Anda paham sampai mana batas keterbukaan itu. Karenanya , ketahuilah berbagi situasi di mana Anda tak perlu terlalu jujur. Lalu , kuasai cara membawa diri ( plus karier Anda ). Sebagai informasi : Strategi seperti ini tak bisa Anda temukan di tiori karier mana pun juga .

Situasi 1.

Serangan tak terduga.

Hari itu Anda dipanggil atasan Anda ke ruangannya. Baru saja Anda duduk, Bos langsung mengajak berdiskusi soal tugas yang sedang Anda kerjakan. Malangnya Anda tak paham proyek mana yang Bos maksudkan . Anda benar-benar “Blank” !

Strateginya :

Biarkan Bos bicara panjang lebar. Jika saat Anda masuk ruangannya Bos langsung melontarkan pertanyaan, “ Jadi bagaimana pendapat Anda ? lempar saja pertanyaan itu kembali, “Menurut Bapak sendiri ?” Pastinya setelah itu atasan Anda akan segera menuturkan pendapatnya yang pada akhirnya bikin Anda paham, proyek mana yang ia maksud.

Pancing atasan Anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang secara tak langsung menggiringnya untuk memaparkan pekerjaan apa yang ia bicarakan. Dayagunakan block note dan pulpen untuk mencatat poin-poin penting pembicaraan Bos. Sambil mencatat , paksa sel-sel otak Anda untuk berpikir secra maksimal. Ingat semua hal yang Anda ketahui tentang proyek tersebut dan berikan pendapat Anda. Jika Anda ragu ( maklum rasa pd menghilang seketika ) , usahakan opini yang terlontar dari bibir Anda tak terlalu “spektakuler” alias berlebihan. Selain itu , pastikan juga mimik muka Anda terlihat yakin dengan apa yang diutarakan. “ Pertahankan kontak mata, “ Perlihatkan ekspressi “ saya tahu apa yang dimaksud .” Bos tak akan menyangka kalau Anda tak tahu apa-apa.

Situasi 2.

Anda datang terlambat ( Untuk kesekian kalinya ).

Jam weker anda membisu di pagi itu, sihingga Anda tetap lelap hingga pukul Sembilan pagi. Saat terbangun , Anda masih santai. Namun, diperjalanan Anda baru sadar kalau sebenarnya hari itu ada internal meeting penting di kantor . Sampai di kantor , rapat telah usai. Tapi bukan berarti masdalah Anda selesai. Bos mendatangi Anda dan bertanya, “ Kemana saja tadi ? “ Pasti Anda panic setengah mati.

Salah langkah.

Memasang air muka kombinasi antara manja dan bersahabat ( sok akrab ) dan mengaku pada Bos kalau semalam Anda menghadiri pesta bersama sahabat lama. Oh oh….sepertinya Anda lupa satu kata mutiara berbunyi “ work hard, play hard .” Beralasan terkena macet ? Sepertinya alasan itu lebih baik dibuang jau-jauh dari kamus Anda. Bukankah padatnya lalu lintas telah jadi bagian dari hidup kita semua ?

Strateginya :

Tak bisa menemukan alasan yang terkesan professional ? Coa karang sebuah cerita yang metentuh hati atasan, Tidak perlu terlalu sedih. Yang berkesan heroic pun boleh. Misalnya , Anda berkata pada atasan bahwa di perjalanan Anda membantu seorang yang mengalami kecelakaan ringan ( terserempet motor misalnya ) ke rumah sakit. Atau Anda kehilangan kunci rumah, sehingga harus mencarinya berjam-jam. Padahal saat itu saat itu tak ada orang di rumah. Cerita semacam ini selain berhasil menutupi alasan sebenarnya, juga akan member kesan Ansda orang yang bertanggungjawab. Selanjutnya , ada baiknya Anda tak mengulangi keteledoran seperti ini untuk bebrapa waktu lamanya. Sebab jika ceritanya mengharukan ini sering terujar dari mulut Anda, lama-lama Bos akan curiga pada Anda.

Ooooo000oooo0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s