“ Pengalaman Menggunakan KARTU KREDIT “


Pertama sekali saya menggunakan kartu kredit pada tahun pertengahan 1997 dengan limit Rp 2.000.000,00 , itu juga setelah aplikasi  yang ketiga permohonan saya dikabulkan menjadi member. Saat itu rasanya bangga punya kartu kredit kelas dunia walau dengan limit seperti itu hahahahhaaa…..rasa percaya diri rasanya bertambah, sepertinya semuanya serba mudah untuk melakukan transaksi tingkat kecil-kecilan. Ada satu hal yang saya rasakan lagi, kartu kredit itu saya anggap tambahan penghasilan…hebatkan.

Berjalan satu tahun kartu kredit saya sudah ada tiga buah, dengan limit bervariasi yang antara Rp 4 juta dan Rp 5 juta. Jadi buka dompet rasanya PD amat .Supaya kalau dilihat orang kelihatan keren gitu loh…Kartu kredit yang dua ini menjadi membernya dengan persyaratan yang begitu mudah, cukup FC KTP dan Slip gaji ( Slip rekayasa ). Wah…. kalau transaksi setelah tiga kartu kredit ini menjadi lebih aktif , bagaimana tidak tinggal gesek saja beres….kadang emosi lebih berkuasa daripada akal sehat.

Berjalan dua tahun kemudian kartu kredit sudah ada tujuh kartu kredit ( 4 kartu menyusul ) cekckckckckck….benar-benar gila. Jadi kartu kredit saya ada tujuh kartu ( saya jadi member tujuh bank, dimana saat itu jabatan saya memungkinkan  untuk dapat dipercaya. Kali ini ada kartu kredit limitnya Rp 10 juta . Kartu kredit yang saya miliki hanya dua bank local selainnya mancanegara  bahkan sudah punya kartu utama adalagi kartu tambahan untuk nama yang sama.Kartu kredit itu yang antara lain :

1.    Citcit Bank

2.    ANZem Bank

3.    Saya lupa namanya, warna kartunya hijau kemudian tutup dialihkan ke Bank Balio

4.    HaEsBeCek ( Kartu Utama dan Tambahan ) Bank

5.    Americo Ekspresso Bank

6.    Mandirinya Bank

Bayangkan kartu kredit di dalam dompet berjejer seperti itu…karena di dalam dompet takut ketekuk (rusak ) lalu kemudian tempat kartu kreditnya punya dompet sendiri. Nah…sekarang kalau buka dompet kartu ini PDnya sudah berkurang..tau kenapa , sudah mulai malu dilihat orang-orang sekitar, dengan kata lain di otak sudah bilang kok kalau belanja ngandalin kartu kredit.

Sebenarnya kehadiran kartu kredit kedua dan ketiga karena limit pemakaian sudah limit, kemudian pembayarannya hanya cicilan minimal yang seharusnya setelah transaksi dilakukan lalu pembayarannya seluruhnya sesuai pemakaian sebelum terkena perhitungan bunga. Lalu apa yang terjadi selanjutnya, penghasilan saya terbatas karena saya pegawai swasta , pembayaran kartu kredit itu saya lakukan yakni mengambil dana cash dari kartu kredit yang satu untuk membayar cicilan minimal, begitulah selanjutnya untuk pembayaran kartu yang lain, dengan kata lain saya menggali lobang kemudian saya kurangi kedalam lobangnya tetapi saya membuat lobang yang lain….seram kan….!!!!

Dari penjelasan saya tadi , terpaksa saya cari pekerjaan tambahan di luar yang saya lakukan dari hari Senin sampai Minggu, itu berlangsung selama satu tahun sehingga hubungan saya dengan anak-anak menjadi renggang. Kenapa renggang karena saya berangkat kerja pukul 05.00 WIB dan pulang ke rumah pukul 21.30 WIB, jadi bablas tidak hubungan emosional dengan anak-anak. Saat itu anak saya sudah tiga orang. Istri saya dengan sangat terpaksa harus membuat kue panganan untuk menambah uang belanja di rumah. Akibat ulah saya yang tak terkontrol tanpa perencanaan hidup yang baik, anak saya yang akhirnya yang menanggung akibatnya.Kenapa seperti itu karena saya memberikan dana kebutuhan di dapur hanya minim, kadang pada pertengahan bulan saya harus meminjam ke tetangga , teman dan kantor. Kalau malam saya jarang tidur nyenyak, karena tagihan kartu kredit terus ada selama satu bulan, tanggal jatuh temponya bervariasi . Setiap bulan mumet….lalu ambil Kredit Tanpa Agunan yang jangka waktunya selama 3 tahun untuk menutup dua  kartu kredit yang ada. Lalu buat buat perjanjian untuk pembayaran flat, tanpa ada tunggakan , bila ada perhitungannya batal kembali keperhitungan bunga, yang ternyata kembali keperhitungan semula karena tagihan yang begitu banyak.

Pertanyaan muncul kenapa saya memiliki kartu kredit sebanyak itu, satu jawabannya sudah dijelaskan di atas, yang ke dua untuk belanja kebutuhan keluarga dimana rumah saya saat itu dekat dengan Lippo Mall Karawaci .Untuk kebutuhan yang lain hanya keinginan pribadi yang wujudnya dapat dilihat oleh isteri saya, tidak saya gunakan ke hal-hal hedonisme pribadi di luar sepengetahuan isteri saya.

Pada tahun 2008, kartu kredit saya tinggal dua kartu kredit, lalu melalui perjuangan yang sangat hebat pertengahan tahun 2009 semuanya lunas. Kalau dilihat dari perjalanan awal berarti saya dapat melunaskan kartu kredit sebanyak itu sesudah 12 tahun….sangat – sangat menyeramkan , menyedihkan, sangat tertekan. Dimana setiap penutupan kita harus membayar administrasinya lagi padahal kita membayar iuran anggota setiap tahunnya, walau ada bank yang tidak memungut biaya tersebut. Akibat kurangnya pengetahuan tentang penggunaan kartu kredit dan kurangnya penguasaan diri terhadap hal-hal yang komsumtif dan perencanaan keuangan keluarga yang kurang, perencanaan hidup yang tidak ada ,saya harus tanggung selama 12 tahun. Selama itu juga keluarga saya hidup dalam kemiskinan…..sungguh egois memang….

Apa yang saya paparkan ini adalah pengalaman yang real, tanpa ada yang saya rekayasa. Maka di kesempatan ini saya sarankan kepada Anda bila Anda membutuhkan kartu kredit :

1.    Baca secara teliti brosur atau keterangan aturan kartu kredit Bank tersebut.

2.    Tanyakan pembayaran apa saja yang harus kita laksanakan setelah jadi member, pastikan semua pembayaran itu secara tertulis ( hitam di atas putih ), yang gunanya untuk kemudian hari bila terjadi konflik.

3.    Anda harus curiga bila persyaratan yang diajukan kepada Anda begitu sangat mudah, karena ada kartu kredit yang bilang tahun pertama iuran anggota ( Member ) gratis namun beberapa bulan kemudian sudah ada tagihan iuran anggota.

4.    Kartu Kredit bukanlah sebagai tambahan pendapatan keuangan.

5.    Boleh memiliki Kartu Kredit kalau Anda benar-benar bisa mengontrol diri Anda, dan Kartu Kredit digunakan dalam keadaan terdesak contohnya sebagai uang muka saat masuk rumah sakit,atau saat bepergian yang mendesak untuk mendapatkan tiket pesawat.

6.    Bayarlah transaksi Anda secara keseluruhan sebelum perhitungan bunga ( ingat…. kalau Anda kena bunga contohnya 4% perbulan kalau ada setahun sudah hampir 50 % bukan ? ), bila pembayaran sering terlambat  Anda bisa memasuki zona “ Bunga dari bunga harian “.

7.    Bila kolektor yang mengambil pembayaran ke tempat Anda, pastikan namanya yang Anda peroleh dari debt service customer untuk menghindari penagih gelap.

Demikian pengalaman saya dalam memiliki dan menggunakan kartu kredit. Semoga paparan ini dapat bermanfaat bagi kita semua….terima kasih.

13 thoughts on ““ Pengalaman Menggunakan KARTU KREDIT “

  1. Turut prihatin mas dengan pengalamannya terkungkung selama dua belas tahun untuk melunasi kartu kredit, saat ini saya hanya punya satu kartu kredit, dan hanya saya gunakan dengan sewajarnya untk keperluan yang mendesak namun setelah itu saya selalu menbayar lunas setiap sebelum tanggal jatuh tempo jadi gak kena bunga, semoga saya bisa tetap seperti itu.

  2. Harus hati2 menggunakan kartu kredit, jangan sampai kita terjerat hutang yang banyak, punya kartu kredit di usahakan maksimal 2. Btw tq sharingnya, mudah2an berguna bagi pembelajaran buat yang lain.🙂

  3. Ya memang terasa pahit….saya mau bercerita seperti dengan harapan jangan ada lagi orang seperti saya. Terima kasih semuanya.

  4. Salut dengan bapak, dengan mengenyampingkan ‘malu’ karena menceritakan masa lalu demi memberikan pelajaran bagi orang lain, terima kasih pak sharringnya🙂

  5. Sama2 Tony….paling tidak saya mengingatkan teman2 yang lain yg mungkin masih atau belum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s