Jitu Menangani Konflik


Konflik

Konflik

DALAM pekerjaan, hampir setiap hari kitadihadapkan pada suatu konflik. Jika konflik tersebut tidak mampu diselesaikan dengan cara yang benar, maka akan memengaruhi semangat dan kinerja kita.

Konflik sering kali menjadi hal yang dihindarkan banyak orang. Sebab, konflik sering kali mendatangkan kondisi negatif bagi seseorang, mulai dari rasa marah, kecewa, tidak suka, sampai kondisi stres.

Meski begitu, menurut Dianne Schilling, penulis sekaligus konsultan di bidang bisnis dan industri, konflik adalah suatu hal yang normal. Kita mungkin tidak menyukainya, tapi konflik adalah bagian dari hidup dan tidak ada satu orang pun yang mampu menghilangkannya.

Tak hanya itu, konflik bahkan bisa meningkatkan produktivitas. Karena menurutnya, dengan adanya konflik, itu tandanya ada perbedaan cara pandang yang berarti akan terbukanya diskusi dan pemaparan ide-ide yang kreatif. Menurut pengamatan Schilling, setiap orang memiliki “gaya” yang berbeda-beda dalam menangani konflik. “Gaya” yang dimaksud ialah suatu perilaku yang secara spontan dikeluarkan saat seseorang dihadapkan dalam suatu konflik.

“Seseorang bisa saja melakukan reaksi yang berbeda pada setiap orang. Misalnya, kita cenderung setuju saja pada atasan, namun senang berbantahan dengan rekan kerja. Atau memberikan alasan yang masuk akal pada anak kita,” ujar Schilling, seperti dikutip dari Womensmedia.com.

Nah, dalam mengatasi konflik, Schilling menyarankan agar kita jangan menggunakan “gaya”, melainkan sebuah “strategi”. Perbedaan dari dua hal ini ialah strategi dilakukan dengan kesadaran penuh alias direncanakan untuk dilakukan untuk mengatasi konflik.

Hal ini perlu dilakukan agar konflik bisa dipecahkan dan menghasilkan hal yang positif bagi kedua belah pihak. Tentu saja, banyak strategi yang bisa dilakukan, dan strategi ini bisa digunakan untuk mengatasi konflik yang berbeda-beda. Karena itu butuh analisis yang baik agar kita bisa menerapkan strategi yang tepat pada sebuah konflik yang ada.

Saat memilih strategi konflik, pikirkan juga bahwa lawan bicara mungkin juga memiliki strategi sendiri. Karena itulah, perhatikan reaksinya saat menghadapi konflik, apakah itu sebuah “gaya” atau “strategi”.

“Jika dia menggunakan ‘gaya’, maka Anda harus berusaha lebih keras untuk mengatasi masalah ini. Sedangkan jika ia menggunakan ‘strategi’, maka Anda harus mencari tahu apa yang diinginkannya dan apa yang ada di pikirannya tentang bagaimana Anda akan bertindak untuk menghadapi konflik ini,” sebut Schilling.

Berikut sepuluh strategi mengatasi konflik ala Dianne Schilling.

1. Mengacuhkan Strategi ini biasanya dipakai saat seseorang tidak ingin terlibat lebih dalam pada konflik yang ada. Ia bisa saja menganggap bahwa menghadapi konflik ini hanya akan membuang-buang waktu. Jika ini yang menjadi alasan, mengacuhkan konflik bisa jadi adalah pilihan terbaik.

2. Menghindari Menghindari konflik menjadi cara yang paling banyak ditempuh untuk menghadapi konflik. Meski begitu, mereka yang melakukan ini tak selamanya adalah seorang pengecut, kecuali jika ia selalu melakukan ini setiap ada konflik.

Penghindaran biasanya dilakukan saat seseorang merasa bahwa kekuatan tidak seimbang atau saat ia sedang memikirkan untuk membuat strategi yang lebih baik.

3. Mendominasi Strategi ini dianggap tepat jika keputusan harus segera dilakukan atau saat isu yang didebatkan tidak terlalu penting. Strategi ini umumnya berorientasi kekuasaan dan dilakukan dengan penuh percaya diri.

Hal ini juga bisa dilakukan jika lawan bicara tak memiliki banyak pengetahuan tentang hal yang diperdebatkan. Meski begitu, strategi ini hanya akan efektif jika Anda merasa bahwa Anda memang benar dan patut dibenarkan.

4. Akomodatif Strategi ini dilakukan untuk membuat lawan merasa lebih baik. Strategi ini juga bisa dipakai untuk menumbuhkan rasa percaya lawan kepada kita.

5. Meminta bantuan Strategi ini menggunakan orang ketiga sebagai mediator mengatasi konflik. Hal ini dilakukan jika masing-masing pihak sama-sama merasa paling kuat, memaksakan kehendak, dan tak mau mengalah. Mediator haruslah orang yang ahli di bidang komunikasi atau dipercaya oleh kedua belah pihak.

6. Humor Humor cocok digunakan jika Anda dan lawan berada dalam satu tim atau satu kelompok dan konfliknya tidak terlalu serius. Cara ini bisa ditempuh dengan cara menganggap masalah dengan cara yang komikal atau dari sisi yang lucu dan menyenangkan.

7. Menunda Strategi ini biasanya dilakukan saat masing-masing merasa masih dalam kondisi yang emosional. Karena itulah,ada baiknya setelah masa penundaan berakhir,persiapkan kemampuan strategi konflik dengan baik.

8. Kompromi Kompromi bisa dilakukan saat strategi yang lain gagal dilaksanakan dan Anda berdua ingin mendapatkan solusi yang benarbenar memuaskan kedua belah pihak.

9. Integrasi Integrasi memfokuskan pada pengumpulan dan penggabungan informasi dan pada saat yang bersamaan mendorong lahirnya pemikiran kreatif dengan sudut pandang yang berbeda-beda.Integrasi ini cocok dilakukan jika masing-masing pihak tidak mendapatkan gambaran utuh tentang hal yang diperdebatkan. Dengan menggabungkan masing-masing informasi, maka akan didapatkan satu hasil yang sama sekali baru.

10. Kolaborasi Kolaborasi berarti bekerja sama untuk menyelesaikan konflik tersebut.Ini berarti masing-masing pihak harus rela memberikan waktu, energi,dan pemikirannya untuk mendapatkan solusi terbaik. Selain itu, masing-masing juga harus saling percaya dan mengembangkan kepercayaan tersebut.

Sumber : Koran SI – Koran SI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s