“Pengalaman Pertama Pulang Kampung Ke Medan Dengan KIA Sedona LS “


Di depan Mesjid Agung Medan

Di depan Mesjid Agung Medan

Perjalanan inimenjadi obsesi saya setelah 23 tahun saya berada di Pulau Jawa (Jakarta,Tangerang). Tepatnya tanggal 21 Desemeber 2012 saya dan keluarga pulang ke Kekisaran dengan mengenderai Mobil KIA Sedona (Buatan 2005) pada pukul 10.00 wib, berangkat dari Kotabumi Tangerang. Sebelumnya sudah dipersiapkan yang antara lain :

1.    Peta Pulau Sumatera ( Kalau bisa pakai GPS, sangat membantu )

2.    Laptop dengan modem ( Kepentingan anak-anak agar ada hiburan facebook dll)

3.    Lauk selama diperjalanan, contohnya ikan tri kacang sambal.

4.    Mental masing-masing

5.    Perlengakapan mobil

6.    Pergantian Navigator selama perjalanan.

Perjalanan ini hanya satu supir yakni saya sendiri. Kami sampai di Merak 11.30 wib lalu pesan tiket ke pelabuhan untuk penyeberangan ( kami ada enam orang, biaya dikenakan sekitar Rp 240.000,- sudah termasuk biaya mobil ). Berangkat dari Merak pukul 13.00 wib sampai di Bakauhuni pukul 15.00 wib.  Kami melanjutkan perjalanan kemudian singgah di POM bensin mengisi bahan bakar full tank antisipasi perjalanan jauh yang akan melewati hutan sumatera khawatir POM bensin yang agak langka ( ternyata sekarang POM bensin sudah banyak di lintas tengah maupun timur jalan sumatera).

Hari pertama perjalanan kami melintasi lintas barat melewati hutan lampung dan berakhir pukul 02.00 wib dinihari, kami istirahat sejenak di POM bensin. Pagi hari pukul 05.30 wib kami lanjutkan perjalanan sampai ke POM bensin lagi, kami istirahat sejenak isi bensin lalu semuanya mandi setelah nitu kami sarapan pagi, suasananya sangat menyenangkan.

Perjalan dilanjutkan lagi sore hari kami sudah melewati tempat yang sangat diantisipasi oleh pemudik yang ke sumatera yakni kawasan Lahat ( agak rawan kejahatan), kemudian kami sampai di kota  Lubuk Linggau  sore hari.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Jambi, namun saat memasuki daerah Sarolangun kami mendapat hambatan ( maaf tidak pantas saya sampaikan di sini, yang jelas bila saat itu  ingat benar pesan teman-teman yang sudah melewati daerah Lampung – Jambi jangan pernah sekalipun membuka jendela menerima tumpangan saat malam hari) itu kejadiannya pukul 02.30 wib dinihari.

Pukul 04.00 wib kami istirahat lagi di POM bensin, lalu dilanjutkan perjalanan lagi ke Jambi. Di daerah Jambi ini kami kesasar karena banyak tanya ke orang-orang, ada yang memberikan informasi yang keliru, sehingga kami sampai di Kisaran setelah 5 hari 4 malam, sungguh tragis memang, syukurlam mobil yang kami bawa tidak mengalami kerewelan apapun, anak-anak senang karena ruangan mobil yang luas, ac yang bagus, tempat duduk yang lebar, anak-anak bisa bergerak dari belakang ke depan padahal barang-barang lumayan banyak yang kami bawa.

Saat kami memasuki Keritang, bamper kiri kena baret oleh truk karena ada pengecoran jalan terjadi kemacetan sampai 3 kilometer. Kemacetan tersebut membuat kenderaan saling rebut lebih dahulu saya tergiur untuk ikut jalur pinggir kanan ( sudah melanggar aturan lalu lintas) saat itulah masuk truk konteiner yang berlawanan arah lalu menyerempet bamper kiri mobil kami, saya tidak bisa menuntut apa-apa karena saya salah jalan (pelajaran buat sang supir yang tidak mengikuti aturan).

Tepatnya di kota kecil Belilas kami menginap di 2 kamar dengan kost penginapan sebesar Rp 125.000,00/malam/kamar, jam 06.00 wib kembali melanjutkan perjalanan. Pagi ini kami mensiasati pembelian konsumsi dengan memarkirkan mobil di pom bensin lalu berjalan kaki mencari warung nasi untuk sarapan pagi sekalian makan siang, kami berenam dengan perhitungan konsumsi yang tepat kami hanya mengeluarkan dana Rp 145.000,00, lauk ikan tawar dan telur dadar ditambah sayuran, relatif murah bukan ? Demikian kami lakukan sampai di Kisaran.

Selama di perjalanan banyak  mobil yang mudik bermasalah dengan ban, tragisnya lagi kejadian tersebut jauh dari pemukiman. Hal ini yang harus diperhitungkan oleh pemudik tentang mutu dan kekerasan ban. Selain itu persoalan yang saya hadapi adalah ketika saya berpapasan dengan kenderaan lain saya selalu lebih mengambil lebih ke kiri karena lebar mobil hampir 2 meter dan panjangnya hampir 5 meter.

Kami pulang tidak punya teman untuk iring-iringan, hanya berkenderaan sendiri. Saya coba untuk ikut iring-iringan kelompok mudik saya agak khawatir akan keselamatan kami karena mereka memacu kenderaannya lebih kurang 100 km/jam sedangkan saya belum menguasai jalanan yang ada hal ini yang tidak boleh dilakukan oleh driver.

Dari Belilas perjalanan terus dilanjutkan ke Pekan Baru selama seharian, sampai di Pekan Baru tidak ada kerusakan mobil yang berarti, kondisi mobil KIA Sedona benar-benar aman, mesin, ban ( ban merek Bridgestone ) semuanya tidak ada masalah. Kami di Pekan Baru istirahat sebentar lalu dilanjutkan ke Kisaran, bila saya (driver) capek kami istirahat selama 2-3 jam di POM bensin.

Hari ke lima kami sampai di Kisaran sekitar pukul 15.00 wib, mobil masuk door smeer supaya mobil dalam keadaan bersih untuk samapai di rumah orang tua. Jelasnya perjalanan perdana kami ke Kisaran selama 5 hari 4 malam. Kenapa demikian ? Jawabannya  :

1.    Sempat nyasar di daerah jambi.

2.    Banyak tanya arah jalan, padahal sudah ada petunjuk jalan (Green Board).

3.    Kurang percaya diri.

4.    Driver seorang Diri.

Kami pulang ke Tangerang melalui lintas timur sumatera selama 4 hari 3 malam, semua rintangan dapat lewati dengan baik. Mobil KIA Sedona aman-aman saja tidak ada gangguan sama sekali, hanya saja kami isi air aki di Bangkinang itu saja. Anak-anak selama perjalanan sehat, kaki tidak bengkak, karena ukuran mobil KIA Sedona yang panjang dan bongsor anak-anak bergerak bebas di mobil, tidur juga pulas, ac disetiap tempat duduk sudah dirancang sedemikian rupa, intinya Mobil KIA Sedona memang mantap dan pas untuk keluarga.

Setelah ditotal biaya bensin pergi pulang Tangerang – Kisaran – Medan – Kisaran – Tangerang sekitar Rp 2.200.000,- padahal mesin KIA Sedona sebesar 2497 cc, banyak teman yang tanya umumnya tidak percaya. Setiap pengeluaran  kami selalu catat termasuk pengeluaran bensin.

Terima kasih Tuhan, KIA Sedona, perjalanan kami pulang pergi selamat dengan keadaan fisik segar bugar….terima kasih.

6 thoughts on ““Pengalaman Pertama Pulang Kampung Ke Medan Dengan KIA Sedona LS “

  1. Perginya lewat jalur tengah apa barat ya? kalau dari statementnya melewati lintas barat tapi kenapa bisa nonggol di lahat ya?
    “Hari pertama perjalanan kami melintasi lintas barat melewati hutan lampung dan berakhir pukul 02.00 wib dinihari, kami istirahat sejenak di POM bensin. Pagi hari pukul 05.30 wib kami lanjutkan perjalanan sampai ke POM bensin lagi, kami istirahat sejenak isi bensin lalu semuanya mandi setelah nitu kami sarapan pagi, suasananya sangat menyenangkan.”

    Saya sangat senang membaca cerita mudik di blog. Sudah 3 tahun belakangan saya mudik ke Padang lewat jalur tengah dan menggunakan mobil. Saya juga suka jalan ke daerah lain menggunakan jalur darat, tapi semangatnya emang beda. Lebih semangat kalau sudah pulang kampung

  2. Memang perjalanan perdana saya ini ada kesalahan membaca map sehingga sampai di kisaran selama 5 hari 4 malam, namun selanjut kami melewati jalur timur memakan waktu selama 4 hari 3 malam, sipirnya saya sendiri, dengan catatan malam pukul 22.00 wib masuk penginapan dan 05.00 wib kembali melanjutkan perjalanan. Demikian Bp.Sony, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s