” Belajar Untuk Hidup “


cropped-alex-emdi.jpg” BELAJAR UNTUK HIDUP ”  Oleh Apul Tumanggor

Filsuf Yunani Seneca (abad ke-3 SM) telah menyadari dan sangat paham tentang makna dan substansi “sekolah”(Belajar). Pemikirannya yang bijak kita kenal dengan “ Non Scholae sed Vitae Discimus”. Artinya Sekolah bukan untuk belajar tetapi untuk hidup. Pertanyaan reflektif kemudian adalah Seberapa banyak masyarakat, orang tua dan siswa-siswi yang berpikiran bahkan berpandangan bahwa sekolah itu untuk belajar (pintar)? Arti yang lebih sederhana adalah kita sekolah atau menyekolahkan anak-anak hanya untuk mengejar nilai /angka yang bagus dan tinggi. Anak sekolah harus naik kelas dan lulus bagaimana pun caranya. Tinggal kelas dan tidak lulus itu berarti “aib” yang memalukan orang tua dan keluarga.

Berapa orang dari kita selaku orang tua masih menuntut anak-anaknya harus mencapai ranking atau nilai 90 atau 100 dalam setiap ulangannya? Siapa orang tua yang masih sering menasehati anak-anaknya dengan memakai diri dan prestasinya dahulu sebagai patokan dan ukuran perbandingannya dengan berkata Papa dulu ranking I  lho? Mama dulu jago matematika lho? Papa mama dulu belajar rajin meski tak ada buku lengkap dan tidak pernah les privat atau kursus. Banyak lagi contoh yang mau menunjukkan paradigma keliru tentang tujuan sekolah (belajar)i.

Belajar  untuk hidup.

Perubahan paradigma seputar substansi belajar /sekolah itu sejak dini harus dikembalikan ke jalan dan tujuan yang benar untuk apa kita sekolah atau belajar. Sebagaimana anak-anak kita lahir,bertumbuh , berkembang  dan sejak awal sudah kita ‘tanamkan’ se 1001 harapan. Demikian juga dengan makna sekolah dan belajar merupakan proses yang terus menerus tumbuh dan menjadi roh yang senantiasa hidup bergelora dalam pribadi setiap orang (anak). Belajar bukan lagi berhenti pada pencapaian angka nilai tertentu tetapi lebih luas belajar terus menerus tentang kehidupan dan peran tanggungjawabnya di tengah masyarakat dunia. Kemampuan seseorang (anak) menghadapi dan berselancar ditengah ombak kehidupan akan menghantarnya berhasil dan sukses dalam hidup.

Tentunya pencapaian nilai atau keberhasilan naik kelas tetap penting sebagai satu indikator pembelajaran dari aspek pengetahuan/kognitif. Namun yang sering kita lupakan adalah aspek lain dari pribadi kita yang seharusnya juga berkembang secara seimbang yakni aspek psikomotorik dan afektif. Sehat jasmani dan rohani. Ingat manusia dikatakan berkembang secara utuh dan sempurna jika terdapat keseimbangan antara pertumbuhan Badan/raga dan Jiwa/Rohani. Nilai Rohani (Prof. Notonegoro): Nilai Kebenaran, Nilai Keindahan, Nilai Moral/Kebaikan dan Nilai  Religius.

Maka Sekolah dalam arti lebih luas belajar yang sejati adalah kesanggupan setiap insan /pribadi memainkan perannya masing-masing secara mandiri (menghidupi nilai kebajikan) sesuai perkembangan usianya. Dalam hal ini kualitas kepribadian anak  menjadi standar atau ukuran kemampuan dalam mengarungi hidup dan problematisnya. Semakin mampu seseorang mandiri dan bertanggung jawab pada sikap dan tindakan atau perbuatannya  adalah tanda bahwa anak atau orang itu telah berkembang dan bertumbuh dalam sikap tanggungjawab, kejujuran dan keberanian. Nilai-nilai kebajikan itulah yang sesungguhnya dibutuhkan dan langka di zaman kita sekarang ini. Banyak orang pintar secara intelektual (ranking di sekolah, juara olimpiade dan memperoleh summa cum laude dari kampus /universitas) tetapi sangat” miskin” dalam kebajikan atau nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan. Akibatnya menjadikan diri priadi krisis dalam hal kepercayaan diri, krisis solidaritas  karena aspek sosialnya tidak terbangun dengan baik. Sementara dalam meraih kesuksesan ganda dalam kehidupan soft skills sangat diperlukan bagi keberhasilan hidup, termasuk ketrampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). Kehebatan inelektual (IQ) tidak menjamin keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup.

Fakta dan data menunjukkan dengan jelas bahwa kecerdasan secara IQ bukan satu-satunya faktor menentukan keberhasilan hidup seseorang. Menurut Riset dilakukan Thomas Stanley kepada 733 responden yang memiliki penghasilan $10 juta pertahun atau setara Rp100 miliar ($1= Rp10 ribu).

Hasil riset dilakukan Thomas Stanley mendapat 100 faktor yang menentukan keberhasilan seseorang secara financial. Anda mau tahu faktor nomor 1 yang menentukan keberhasilan seseorang secara financial? Ya, jawabannya adalah JUJUR. Faktor 2. Dispilin 3. Kerja Keras 4. Pasangan Hidup. 5. Rajin membangun relasi dengan orang lain (Mudah Bergaul) 6. Mencintai pekerjaan. Sedangkan dalam risetnya ini IQ menempati peringat ke-21, lulus dengan nilai tertinggi peringkat ke-23, dan lulus dari universitas favorite berada di peringkat ke-30.

Karena itu, jika di negara kita  ditetapkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang nantinya dikembangkan lagi dengan kurikulum 2013 sangat jelas muatannya berfokus pada pribadi anak yang mulia. Kurikulum harus mampu mengembangkan seluruh kepribadian anak secara lebih utuh. Hal itu tampak jelas dari pengembangan tiga ranah dalam pembelajaran secara seimbang yaitu Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Maka jika kita melihat adanya perubahan paradigma tentang pelaksanaan Ujian Nasioanl (UN) atau  Ujian Akhir Sekolah (UAS ) tidak lain karena kesadaran akan makna sekolah atau belajar itu sendiri.

Lebih tegas Menteri Pendidikan Anies Baswedan mengatakan UN harus menjadi proses pembelajaran, bukan sebalilknya, belajar untuk UN. Semangat yang perlu dikembangkan dalam UN adalah untuk kejujuran. Ujian Nasional (UN) mesti dimaknai sebagai proses latihan dan ujian integritas, bukan hanya sekedar penilaian terhadap kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentu.

Dengan demikian semakin jelas bahwa tujuan kita sekolah dan menyekolahkan anak-anak adalah berjuang bersama menumbuhkan dan  membentuk karakter dan kepribadian yang utuh. Sekolah, keluarga, teman dan masyarakat adalah tempat dan teman setiap anak (pribadi) memperoleh dan mengalami nilai-nilai kebajikan itu. Di Sekolah Tarsisius Vireta (YBHK) nilai-nilai itu tersimpul dalam 7 core values menjadi tugas kita untuk senantiasa menghidupi, mengembangkan dan membagikannya kepada sesama yaitu Kasih, Syukur, Disiplin, Tanggungjawab, Kerja sama , Inovatif dan Unggul. Selamat Belajar!!!*** Apul Tumanggor.

 

 

2 thoughts on “” Belajar Untuk Hidup “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s